Tuesday, October 6, 2015

Galaxy S7 menggunakan Snapdragon, Secara Terbatas

handset smartphone flagship punya perusahaan korea Samsung yang akan dilaunching selanjutnya, adalah Galaxy S7, kabarnya smartphone ini tetap akan menggunakan chipset Snapdragon bikinan Qualcomm.

Akan tetapi, Galaxy S7 berprosesor Snapdragon ini  hanya akan dipasarkan secara eksklusif di beberapa negara saja

Seperti berita yang dilansir laman KompasTekno bersumber dari PhoneArena, Pada hari Jumat (2/10/2015), Smartphone Samsung Galaxy S7 yang menggunakan chipset termutakhir, Qualcomm Snapdragon 820 itu hanya akan dijual di dua negara yaitu China serta Amerika Serikat (AS) saja.

Sementara untuk diluar kedua negara tersebut, Samsung akan menambahkan dengan chipset produksi mereka sendiri, yakni seri Exynos.

Sebelumnya, di handset Galaxy S6, Samsung memuturkan untuk memakai chipset produksi sendiri, yaitu Exynos 7420 secara menyeluruh.

Hal tersebut disebabkan prosesor Snapdragon yang akan dipakai oleh Samsung mengalami masalah mudah panas yang belum dapat diatasi sampai dengan menjelang Galaxy S6dilaunching.

Snapdragon 820 sendiri mempunyai fitur core Kryo serta CPU 4-inti (quad core) serta digabungkan dengan prosesor grafis (CPU) Adreno 530.

Qualcomm kabarnya juga sudah mampu mengatasi kelemahan chipset high-end teranyar mereka tersebut, yakni memangkas daya yang diperlukan serta membuatnya bekerja lebih dingin, sehingga memperoleh kepercayaan Samsung kembali.

Samsung sendiri merencanakan akan meluncurkan Galaxy S7 pada bulan Februari 2016 yang akan datang.

Tuesday, September 29, 2015

Membelikan Gadget Untuk Anak Generasi “iTods”? Pahami Dulu Resikonya

Sebagai orang tua yang peduli terhadap kesehatan anak Anda, sebaiknya Anda jangan membiarkan anak untuk bermain tablet atau sejenisnya. Mengapa demikian? Karena, selain bahaya radiasi, gadget juga menyimpan bahaya psikologis yang cukup besar. Inilah yang perlu benar-benar diperhatikan oleh orang tua yang hidup di era generasi iTods (Ipad and Toddlers) yang kini mulai mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Menurut informasi yang dilansir dari laman Kompas.com, selasa (22/09/20150 disebutkan bahwa sebuah survei yang dilakukan oleh lembaga independen Childwise, dimana telah dilakukan survei terhadap 1.034 orang tua yang memiliki anak usia 6 hingga 4 tahun, berhasil menemukan hampir 10 % orang tua menyediakan tablet dikamar anak, sehingga bermain gadget menjadi hal yang lumrah sebelum tidur. Selain itu, anak-anak juga dibebaskan untuk tidur dengan tablet mereka, sehingga kamar tidur sudah beralih fungsi dari zona istirahat menjadi zona bermain elektronik.
Jika pada tahun 2012 hanya terdapat 27% anak diusia tersebut yang menggunakan tablet dan telepon seluler, maka ditahun 2015 ini jumlahnya meningkat pesat sebanyak 73%, 29 % diantaranya sudah memiliki tablet yang dihadiahkan oleh orang tuanya.
Anak-anak biasanya menggunakan perangkat tersebut untuk menonton video klip, program televisi, main game ataupun aplikasi lainnya. Rata-rata penggunaan tablet tersebut adalah 30 menit hingga 1 jam. Sehingga tidak heran jika penelitian tersebut juga menemukan bahwa 1 diantara 10 anak usia pre-chool sudah sanga lekat dengan tayangan televisi maupun aplikasi tabler, sehingga sangat berisiko mengalami kecanduan layar elektronik.
Dr. Aric Sigman, spesialis pendidikan kesehatan anak dari Royal Society of medicine mengatakan, bahwa sangat penting bagi orang tua untuk membuat aturan baru tentang kebiasaan bergadget anak untuk menghindari anak terobsesi dengan teknologi.
Selain dihawatirkan Anak mengakses situs-situs yang membahayakan, sebuah studi yang dilakukan oleh The Seattle Children’s institute di Amerika menyatakan bahwa, menonton acara apapun ditablet atau televisi diatas pukul 7 malam, dapat menyebabkan anak usia 3-5 ahun akan sulit tidur, mimpi buruk serta kelelahan ketika bangun. Maka, sedikit banyak, hal ini akan mengganggu aktivitas sekolah mereka.

Oleh sebab itu, sudah sewajarnya para orang tua untuk memberikan contoh kebiasaan baik terkait dengan gadget, seperti menyimpan ponsel saat bermain dengan anak, menggunakan ponsel ketika sedang tidak bersama anak, serta membuat aturan kapan anak boleh bermain gadget dan kapan anak harus meninggalkan gadget untuk belajar. Apabila orang tua tidak tegas dan berhati-hati, maka kecanduan gadget bisa berlangsung hingga anak besar. Maka tidak menutup kemungkinan, bahwa anak akan kehilangan kesempatan untuk bereksplorasi didunia nyata dan mengalami kesulitan dalam bergaul.